Sungai Penuh – Pelayanan RSUD Mayjend H.A. Thalib Kota Sungai Penuh kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, seorang konten kreator asal Kabupaten Kerinci, Anisa Pratama, meluapkan kekecewaannya melalui siaran langsung (*live*) di media sosial hingga memicu reaksi luas dari masyarakat.

Persoalan bermula saat Anisa membawa ibunya berobat ke rumah sakit tersebut karena mengalami penurunan kadar hemoglobin (Hb). Mengingat kondisi sang ibu, pihak keluarga berencana membawa pasien ke Padang, Sumatera Barat, untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

Namun, kendala muncul saat Anisa mengurus proses rujukan. Ia mengaku diarahkan ke dokter spesialis jantung, padahal keluhan utama pasien adalah Hb rendah dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

“Saat meminta rujukan, saya justru diarahkan ke spesialis jantung. Padahal ibu saya keluhannya Hb rendah, bukan jantung,” ujar Anisa dalam unggahannya.

Tak berhenti di situ, upaya rujukan kedua ke rumah sakit di Padang juga terkendala sistem antrean. Anisa menyebutkan bahwa pihak rumah sakit belum bisa memberikan rujukan dengan alasan kuota antrean untuk hari tersebut hingga beberapa hari ke depan sudah penuh. Sementara itu, kondisi pasien disebut sangat membutuhkan penanganan medis segera.

Menanggapi keluhan yang viral tersebut, Direktur Umum RSUD Mayjend H.A. Thalib, Debi Zartika, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa sistem yang dikeluhkan merupakan bagian dari layanan digital yang terintegrasi dengan BPJS Kesehatan.

“Sistem ini bertujuan agar peserta JKN dapat melakukan pendaftaran dari mana saja tanpa harus datang langsung ke rumah sakit,” jelas Debi.

Terkait kendala rujukan Anisa, Debi menyebutkan bahwa petugas telah menyampaikan kondisi kuota pelayanan yang memang sudah penuh. Namun, ia memberikan opsi lain bagi pasien yang membutuhkan penanganan cepat. “Petugas kami sudah menyampaikan bahwa kuota penuh. Jika pasien tetap ingin dilayani lebih cepat, pilihannya adalah menunggu hingga pukul 11.00 WIB,” tambahnya.

Kabar viral ini turut memancing keprihatinan dari berbagai elemen mahasiswa. Dzikril Ikhsan, Ketua FORMA KIP-K IAIN Kerinci, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas insiden yang menimpa pasien di RSUD tersebut.

“Sangat disayangkan jika prosedur birokrasi dan kendala sistem digital justru menjadi penghambat bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat. Pelayanan kesehatan seharusnya mengedepankan sisi kemanusiaan dan urgensi kondisi pasien di atas segalanya,” tegas Dzikril.

Menurutnya, klarifikasi dari pihak rumah sakit memang penting, namun solusi konkret jauh lebih mendesak. “Ketika klarifikasi menjadi kunci utama untuk meredam opini, seharusnya manajemen juga menjadikannya kunci untuk evaluasi internal. Jangan sampai masyarakat merasa ‘dipersulit’ oleh sistem yang seharusnya mempermudah,” pungkasnya.

Insiden ini sontak menjadi buah bibir di tengah masyarakat Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Banyak warga yang berharap kejadian ini menjadi momentum evaluasi total bagi manajemen rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan.