1pena.com – Sorotan terhadap pernyataan anggota DPRD Provinsi Jambi, Eka Marlina, terkait rencana perbaikan Jalan Padang Lamo pada 2027 terus menguat. Kritik kali ini datang dari Ujang Saputra, tokoh masyarakat Desa Teluk Lancang, Kecamatan VII Koto.

Ujang menilai pernyataan yang disampaikan melalui interupsi dalam sidang paripurna tersebut terkesan baik di permukaan, namun dinilai terlambat untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Kalau memang mau memperjuangkan, kenapa harus 2027? Sementara kita tahu beliau sudah tiga periode duduk sebagai anggota DPRD Provinsi dari Fraksi PKB. Dua periode sebelumnya ke mana?” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat saat ini tidak lagi membutuhkan janji, melainkan bukti nyata dari para wakil rakyat yang telah diberi amanah.

Ia juga menilai pernyataan tersebut baru muncul setelah persoalan Jalan Padang Lamo menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan.

“Sekarang ketika masyarakat ramai menggugat, baru ikut bersuara seakan jadi pahlawan. Maaf buk, kami butuh bukti, bukan sekadar omongan,” ujarnya.

Ujang bahkan mendorong agar usulan perbaikan jalan tersebut dapat dipercepat, termasuk melalui skema anggaran perubahan tahun 2026.

“Kalau memang serius, kenapa tidak diusulkan di 2026? Masyarakat sepanjang Jalan Padang Lamo sudah muak dengan janji-janji,” tambahnya.

Sebagai bentuk kekecewaan, ia juga menyampaikan kritik melalui sebuah pantun:
Sungguh indah burung terbang, hinggap di atas batu,
Jika ucapan pemimpin tak lagi bisa dipegang, kepada siapa kami mengadu.
Kritik serupa turut disampaikan Ismail, tokoh masyarakat Desa Dusun Baru. Ia mempertanyakan sikap wakil rakyat dari daerah pemilihan Bungo–Tebo yang dinilai baru bersuara setelah persoalan tersebut viral.

“Mengapa baru buka suara sekarang? Selama ini ke mana? Apa yang dikerjakan di DPR?” ujarnya singkat.

Gelombang kritik dari masyarakat ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan Jalan Padang Lamo bukan lagi sekadar isu pembangunan, melainkan telah menyentuh aspek kepercayaan publik terhadap para wakil rakyat.***