Kerinci– Dugaan penyimpangan dalam Program Makanan Bergizi (MBG) di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kian mencuat. Selama hampir tiga bulan terakhir, menu MBG dilaporkan tidak lagi menyertakan susu, komponen penting dalam pemenuhan gizi, meski pasokan susu di daerah tersebut diketahui tersedia.
Fakta ini memicu kemarahan publik. Pasalnya, program yang seharusnya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, justru diduga mengalami pengurangan standar secara sengaja.
“Ini bukan sekadar kelalaian. Kalau susu ada tapi tidak diberikan, patut diduga ada permainan di tingkat dapur,” tegas salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ketiadaan susu dalam menu MBG bukan hanya soal teknis, tetapi mengarah pada dugaan praktik penghematan anggaran yang tidak transparan. Sejumlah pihak menilai, langkah tersebut berpotensi dilakukan untuk menekan biaya produksi demi meraup keuntungan lebih besar.
Jika dugaan ini benar, maka program MBG yang dibiayai oleh anggaran negara berpotensi disalahgunakan oleh oknum tertentu. Ironisnya, yang menjadi korban adalah masyarakat penerima manfaat yang seharusnya mendapatkan asupan gizi lengkap.
Pengamat menilai, penghilangan susu dari menu selama berbulan-bulan tidak mungkin terjadi tanpa sepengetahuan pihak pengelola maupun pengawas program. Hal ini membuka kemungkinan adanya pembiaran sistematis.
“Ini harus diusut. Jangan sampai program yang menyangkut gizi anak-anak dijadikan ladang mencari keuntungan,” ujar seorang pemerhati kebijakan publik.
Hingga saat ini, pihak pengelola dapur MBG di Kerinci dan Sungai Penuh belum memberikan klarifikasi resmi. Sikap bungkam tersebut justru semakin memperkuat kecurigaan
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan melakukan audit menyeluruh. Jika ditemukan adanya unsur penyimpangan, maka tindakan tegas harus segera diambil.
Program MBG bukan sekadar proyek, melainkan menyangkut masa depan generasi. Ketika kualitasnya dipermainkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran, tetapi juga kesehatan anak bangsa.

