Jambi-Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi seharusnya menjadi pesta akademik, sebuah ruang pengantar mahasiswa baru ke dunia ilmu, etika, dan intelektual. Tetapi, apa yang terjadi? Alih-alih memberi teladan, kegiatan itu justru ternodai dengan keributan, pengeroyokan, hingga penodaan simbol organisasi mahasiswa Islam.
Penulis bukan hanya menulis sebagai mahasiswa biasa, penulis merupakan salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jambi, yang hatinya terbakar namun akalnya menolak tunduk pada emosi. “Insiden di PBAK ini membuat saya merenung: seberapa jauh kampus Universitas Islam Negeri sudah menyimpang dari jati dirinya sebagai kampus Islami? Bagaimana bisa institusi yang membawa nama besar Islam justru memproduksi tontonan premanisme di hadapan mahasiswa baru?”
Penulis melihat dengan getir bagaimana bendera HMI simbol perjuangan yang telah mengakar puluhan tahun dalam sejarah bangsa dilecehkan. Itu bukan sekadar selembar kain. Itu adalah warisan ideologi, darah, dan keringat generasi sebelumnya. Ketika simbol itu diinjak, maka sesungguhnya oknum itu sedang menginjak sejarah, menginjak martabat, dan menginjak harga diri kader-kader HMI yang masih bernafas hari ini.
Apakah kita sebagai kader HmI tidak marah? Tentu kita marah. Tetapi marah bukan berarti kehilangan kendali. Justru di situlah tantangannya, apakah kita mau terperosok dalam lubang yang sama, atau kita berdiri lebih tinggi, menunjukkan bahwa kita berbeda dari segelintir oknum organisatoris tersebut yang tidak tahu nilai-nilai moral dan etika, hanya tahu menggunakan otot?
Penulis ingin mengajukan pertanyaan yang penting, namun sebelumnya maaf jika terlalu terkesan menyakitkan. “UIN STS Jambi ini sebenarnya kampus atau gelanggang preman? Bagaimana mungkin sebuah acara akademik bisa berubah menjadi ajang pengeroyokan? Bagaimana bisa kampus diam seolah-olah tak terjadi apa-apa? Saya merasa miris. Kampus yang seharusnya jadi rumah ilmu berubah jadi arena pertarungan. Mahasiswa baru yang mestinya dikenalkan pada keilmuan justru diperlihatkan tontonan kekerasan. Bukankah ini pengkhianatan terhadap semangat akademik?”
Mari kita bicara jujur. Insiden ini adalah tindak pidana. Ada pengeroyokan, ada penganiayaan. KUHP tidak buta, Aparat tidak boleh tuli. Ini bukan hanya sekadar “gesekan antar mahasiswa”, tapi sebuah kejahatan yang harus diproses. Penulis menegaskan, jalan yang diambil kader HMI bukan balas dendam. Jalan kita adalah hukum. Kita harus dorong kepolisian, kader-kader HMI harus mengawal kinerja aparat, agar kasus ini ditangani sampai tuntas. Jika aparat lamban, jika hukum hanya jadi formalitas, maka bukan hanya HMI yang dirugikan, tetapi seluruh iklim akademik Jambi yang tercoreng.
Jika hukum tumpul, maka mahasiswa akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, jalanan akan kembali jadi arena pertarungan. Itulah yang Penulis khawatirkan. Karena itu, hukum harus jadi panglima, bukan dendam yang membara.
Kekerasan yang terjadi di PBAK UIN STS Jambi adalah bukti nyata bahwa ada yang gagal memahami arti intelektualisme. Apa yang bisa diwariskan dari sebuah pengeroyokan? Hanya kebodohan. Apa yang bisa dipelajari dari menghina simbol organisasi? Hanya kebencian. “Saya katakan dengan keras: bahwa premanisme adalah kebodohan yang dipelihara. Mereka yang mengandalkan otot tanpa otak sesungguhnya sedang memperlihatkan kekosongan. Mereka bisa memukul, bisa menginjak, bisa berteriak, tapi tidak bisa berpikir.”