Belakangan ini, kalau kita duduk di kantin atau sekadar memperhatikan linimasa, ada satu hal yang terasa hilang: ruh dari gerakan mahasiswa itu sendiri. Kita seolah terjebak dalam perlombaan mencapai IPK tinggi, lulus cepat, lalu masuk ke dunia kerja yang pragmatis. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi kalau kuliah hanya soal itu, lalu apa bedanya kita dengan siswa sekolah menengah yang hanya pindah gedung?
Kita sering mendengar istilah Agent of Change dan Social Control. Dua frasa ini sudah sangat tua, bahkan mungkin sudah mulai berdebu di telinga kita. Tapi, pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah saya masih punya kapasitas itu, atau saya sudah terlalu nyaman dengan status mahasiswa yang hanya sekadar status administratif?”
Menjadi agen perubahan itu beban yang berat kalau kita bayangkan sebagai revolusi besar. Padahal, perubahan yang paling jujur seringkali lahir dari hal-hal yang tidak terlihat di media massa. Ia lahir dari keberanian seorang mahasiswa untuk tetap kritis di dalam ruang kelas ketika dosen memberikan materi yang tidak relevan dengan realita. Ia lahir dari inisiatif mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat, bukan karena tuntutan SKS, tapi karena ada nurani yang terusik melihat ketimpangan di depan mata. Kita adalah motor penggerak karena kita punya tenaga yang melimpah dan pikiran yang belum terikat oleh kepentingan birokrasi yang rumit.
Lalu soal peran sebagai kontrol sosial. Ini adalah posisi yang paling terhormat sekaligus paling berisiko. Di tengah dunia yang penuh dengan narasi kepentingan—mulai dari politik hingga bisnis—mahasiswa seharusnya menjadi satu-satunya kelompok yang masih bisa bicara jujur tanpa beban. Kita adalah “alarm” bagi kekuasaan. Ketika kebijakan pemerintah atau bahkan kebijakan kampus mulai mencederai rasa keadilan, mahasiswa adalah pihak pertama yang seharusnya berteriak paling kencang.
Kenapa? Karena kita punya akses terhadap ilmu pengetahuan. Kita punya alat analisis yang tidak dimiliki semua orang. Jika mahasiswa yang sudah belajar hukum, ekonomi, atau sosial lebih memilih untuk diam saat melihat realita yang melenceng, maka sebenarnya kita sedang mengkhianati hak istimewa yang kita miliki.
Jujur saja, tantangan kita sekarang jauh lebih sulit dibanding angkatan dulu. Kita tidak lagi hanya melawan satu musuh besar yang jelas terlihat. Kita sedang melawan sikap apatis, rasa malas, dan algoritma yang membuat kita asyik dengan dunia sendiri. Kita sering merasa sudah cukup berkontribusi hanya dengan membagikan unggahan di media sosial, padahal kontrol sosial membutuhkan kehadiran fisik, analisis yang tajam, dan aksi nyata yang konsisten.
Pada akhirnya, mari kita ingat lagi bahwa di balik biaya kuliah yang kita bayar, atau beasiswa yang kita terima, ada harapan masyarakat yang besar. Mereka tidak butuh kita hanya untuk jadi sarjana yang sukses secara personal. Mereka butuh kita untuk menjadi pembela saat suara mereka tidak didengar. Menjadi mahasiswa adalah tentang merawat kegelisahan agar tidak padam oleh kenyamanan, dan memastikan bahwa setiap ilmu yang kita dapatkan punya dampak langsung bagi kemanusiaan.
Sebab, ketika kita nanti melepas almamater dan memakai toga, pertanyaannya bukan lagi “Apa jabatanmu?” tapi “Siapa yang sudah kamu bantu selama kamu memiliki privilege sebagai mahasiswa?” (*)

