oleh: Randi Vitora 

Selama ini, narasi pembangunan sering kali menomorduakan kelestarian demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Namun, data menunjukkan bahwa kita sedang berada di titik nadir yang memerlukan intervensi radikal dari generasi muda.

1. Bonus Demografi atau Beban Ekologi?

Indonesia sedang menikmati bonus demografi, di mana sekitar 68% populasi berada di usia produktif. Namun, bonus ini akan menjadi beban jika kualitas hidup kita menurun akibat krisis iklim. Menurut laporan IPCC, batas pemanasan global 1,5°C kemungkinan besar akan terlampaui pada awal 2030-an jika tidak ada aksi drastis.

Bagi saya, ini bukan sekadar angka suhu, tapi tentang frekuensi bencana hidrometeorologi (banjir, longsor) yang di Indonesia sendiri meningkat lebih dari 80% dalam satu dekade terakhir. Pemuda memiliki energi dan jumlah untuk menekan kebijakan publik agar lebih berpihak pada keberlanjutan.

2. Benteng Terakhir: Hutan Tropis Kita

Hutan Indonesia adalah salah satu carbon sink terbesar di dunia. Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa meski laju deflorestasi sempat menurun, ancaman konversi lahan untuk komoditas tetap tinggi.

Urgensi pemuda di sini adalah menjadi “Digital Guardian”. Kita punya kemampuan literasi digital untuk memantau data satelit secara real-time dan memviralkan kejanggalan di lapangan. Tanpa pengawasan ketat dari pemuda yang melek teknologi, hutan kita hanya akan menjadi angka dalam laporan inventarisasi yang rentan dimanipulasi.

3. Kekuatan Ekonomi Baru (Green Jobs)

Saya melihat ada pergeseran paradigma ekonomi. Riset dari International Labour Organization (ILO) memproyeksikan bahwa transisi ke ekonomi hijau dapat menciptakan 24 juta lapangan kerja baru secara global pada tahun 2030.

Pemuda tidak boleh hanya menjadi objek, tapi harus menjadi subjek yang menguasai teknologi ramah lingkungan, manajemen kehutanan berkelanjutan, hingga ekonomi sirkular. Mengawal isu lingkungan berarti kita sedang mengamankan lapangan kerja kita sendiri di masa depan.

Catatan Kritis:

Perubahan iklim tidak mengenal negosiasi diplomatis yang bertele-tele. Jika generasi kita tidak mengambil tongkat estafet pengawasan kehutanan sekarang, maka kita adalah generasi yang secara sadar menyaksikan kehancuran rumahnya sendiri dari balik layar ponsel. (*)