Oleh: Dzikril Ikhsan

Mahasiswa Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan

Kasus pengeroyokan terhadap Agus Saputra, seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bukan sekadar berita kriminal yang lewat begitu saja. Bagi kami, mahasiswa yang saat ini sedang menempuh studi di jurusan pendidikan, peristiwa ini adalah tamparan keras. Ada rasa sesak yang muncul saat melihat sosok yang seharusnya menjadi teladan justru dipertontonkan layaknya “lawakan” dan sasaran amuk massa di media sosial.

Tragedi ini memperlihatkan secara telanjang betapa profesi guru sedang mengalami desakralisasi. Guru kini kehilangan otoritas moralnya dan bergeser posisi menjadi sekadar “penyedia jasa” yang rentan diintimidasi. Di era digital, wibawa guru seolah diagunkan pada potongan video viral yang sering kali tidak menyajikan konteks utuh. Sebelum meja hijau bertindak, “meja media sosial” sudah lebih dulu menjatuhkan vonis, menghancurkan martabat pendidik bahkan sebelum alasan di balik tindakannya dipahami.

Kondisi ini menciptakan dilema yang melumpuhkan bagi kami calon guru. Kami diajarkan bahwa pendidikan adalah tentang pembentukan karakter (transfer of value), namun realita di lapangan menunjukkan bahwa ketegasan dalam mendidik kini memiliki risiko hukum dan fisik yang sangat tinggi. Jika setiap upaya pendisiplinan berujung pada laporan polisi atau pengeroyokan oleh siswa, maka jangan kaget jika guru masa depan akan memilih jalur aman: sikap apatis. Mereka mungkin hanya akan datang, mengajar, lalu pulang, tanpa peduli pada dekadensi moral siswanya karena merasa perlindungan profesi mereka nol besar.

Jika seorang siswa merasa memiliki hak untuk mengeroyok gurunya, maka ada yang salah secara sistemik dalam pendidikan karakter kita. Sekolah tidak boleh dibiarkan menjadi medan tempur di mana guru menjadi pihak yang paling tidak berdaya. Negara dan instansi terkait harus hadir, bukan hanya melalui mediasi formalitas, tapi lewat regulasi perlindungan guru yang nyata dan tegas.

Sebagai mahasiswa keguruan, kami tidak ingin lulus hanya untuk menjadi bahan tertawaan atau sasaran kekerasan di ruang kelas. Jika wibawa guru terus terdegradasi, kita sedang memanen kehancuran sebuah generasi. Sebab, bagaimana mungkin seorang guru bisa mendidik jika untuk berdiri di depan kelas saja mereka harus merasa ketakutan?